Jumat, 07 Oktober 2016

Peringatan haul pendiri pondok pesantren Attanwir, milad atau hari jadi IKAMI UTM, tahun baru islam, berdo’a bersama menjelang UTS, serta sharing hearing.    

     Peringatan haul pendiri pondok pesantren Attanwir, milad atau hari jadi IKAMI UTM, tahun baru islam, berdo’a bersama menjelang UTS, serta sharing hearing.    



         Kesibukan mulai memuncak, ketika ada perhelatan dan syukuran IKAMI UTM (Ikatan Alumni Attanwir Universitas Truunojoyo Madura). Kami para anggota IKAMI UTM benar-benar menyiapkan dengan matang untuk acara perhelatan dan syukuran ini. Mulai dari kesiapan runtutan acara. Hingga apa saja yang dibutuhkan ketika acara berlangsung. Serta tak lupa menyiapkan tumpeng untuk makan besar dan syukuran nanti.

         Perhelatan dan syukuran ini yang lain dan tak bukan adalah dalam rangka memperingati haul pend iri pondok pesantren Attanwir, milad atau hari jadi IKAMI UTM, tahun baru islam, berdo’a bersama menjelang UTS, serta sharinghearing.  Perhelatan ini, tepatnya pada tanggal 5 Oktober 2016. Hari Rabo malam. Pukul 19.00 yang bertempat di sebelah selatan Gedung Pertemuan Universitas Trunojoyo Madura. Dalam perhelatan ini, dihadiri semua anggota IKAMI UTM mulai dari angkatan 2014 hingga 2016. Antusias mereka sangat besar dan tak tertandingi untuk menghadiri perhelatan ini. Bagaimana tidak?? Ketika salah seorang dari anggota IKAMI UTM mempunyai agenda lain, tetapi ia tetap menyempatkan diri uuntuk turut hadir.
        Malam yang begitu ramai di sekitar Gedung Pertemuan, menambah warna tersendiri dalam perhelatan ini. Semua anggota IKAMI UTM sudah berkumpul dan semua kebutuhan pun telah disiapkan. Menata tumpeng memang membutuhkan perjuangan yang hebat. Hingga membentuk topi kerucut yang sempurna. Semua itu dilakukan agar syukuran ini memberikan sesuatu yang lebih bermakna.
          Pukul 19.15 tepat perhelatan ini dimulai. Acara ini dibuka dan dipimpin langsung oleh ketua IKAMI UTM dari awal hingga akhir. Tiba saatnya pembacaan surat yaasiin dan tahlil. Semua yang hadir menundukkan kepala. Memuji, berharab seraya berdo’a kepada sang Maha Kuasa. Keheningan dan kekhusyu’an terpancar dari setiap individu yang menghadiri perhelatan ini. Kami mempunyai banyak harapan untuk IKAMI UTM ke depannya. Pasalnya, IKAMI UTM juga baru berdiri satu tahun yang lalu. Jadi masih ada seribu do’a dan harapan yang kami harapkan untuk IKAMI UTM. Pembacaan do’a oleh ketua IKAMI UTM menjadi tanda bahwa yaasiin dan tahlil telah usai. Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Makan besar bersama para anggota IKAMI UTM sebagai tanda syukur telah tiba. Semangat mereka terlihat ketika hendak menyantap tumpeng yang memang siap untuk disantap. Semangat itu tumbuh secara natural, mengingat atas perjuangan para anggota untuk menyiapkan, mengolah dan memasak makanan hingga menciptakan rasa yang sempurna dan nikmat untuk disantap. Kekompakan, kebersamaan, keceriaan, canda dan tawa tercipta dalam lingkaran persaudaraan para anggota. Seperti apa yang diungkapkan M. Alvin Nasikhin selaku ketua IKAMI UTM . Dia mempunyai kesan dan harapan yang sangat luar biasa. Ungkapnya“Tadi malem itu kebersamaan yang luar biasa, rasa kekeluargaannya dapet,  tidak dapat dipungkiri juga kita semua adalah santri alumni attanwir jadi ya wajar tadi malem acaranya yasinan, tahlilan.. karena itu memang cara kita untuk menggapai tujuan yang kita inginkan bersama, dan saya senengnya meskipun banyak hambatan tapi temen-temen ngak pernah ngeluh sedikitpun, meski pada sibuk nugas, kerkel, ngurusin organisasi, dsb. Tapi temen-tementetepnyempetin waktunya buat Ikami, seneng rasanya bisa merangkul temen-temensemua, seneng juga lihat temen-temen tadi malem bisa kerja sama, kompak, solid, saling akrab, saling menghargai, makan rame-rame berasa nuansa di pondok (meskipun masakannya pedess banget 😂), semoga kebersamaan seperti itu tak lekas pudar, dan Ikami ke depannya bisa jauh lebih baik lagi.. aaamiin🙏”.

         Sebelum acara selesai ada beberapa hal yang perlu dirundingkan untuk IKAMI UTM ke depannya. Tepat pukul 21.30 acara ditutup dan diaakhiri dengan do’akafarotulmajlisoleh ketua IKAMI UTM. Alhamdulillah perhelatan dan syukuran ini berjalan dengan lancar dan sukses dengan harapan semoga mendapat manfaat dan barokah dari ulama’ yang kami elu-elu kan yang juga sebagai pendiri pondok pesantren Attanwir yakni KH. Moh. Sholeh.




Selasa, 04 Oktober 2016

Sabtu, 01 Oktober 2016

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus Terkuat Di Indonesia

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus Terkuat Di Indonesia





          Organisasi mahasiswa ekstra  kampus adalah komunitas pergerakan baik di bidang sosial, politik, maupun pemikiran yang tidak memiliki tanggungjawab struktural terhadap Rektor atau Kemenristek-Dikti. Tim Ruangbicara menyusun empat organisasi ekstrakampus terkuat di Indonesia, yang diukur berdasarkan usia, persebaran alumni, jumlah anggota, dan dampaknya pada pembangunan manusia maupun isu di Indonesia. Apa sajakah itu?

1. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

          Organisasi yang didirikan tahun 1960 ini, dipandang paling bercitarasa “Indonesia”. Hubungannya dengan Nahdhatul Ulama (NU) begitu erat. Ia lahir akibat pergolakan pemikiran yang hebat pada masa itu antara golongan kanan dan kiri. Terutama, situasi politik ketika NU berpisah dari Partai Masyumi.

         PMII memiliki basis massa nyaris di seluruh Indonesia, terutama di Jawa Timur. Karena dianggap paling moderat, maka PMII berhasil bertahan dari serbuan labelling radikal dari berbagai kalangan. Kader-kader PMII juga dianggap paling mampu membaur dengan masyarakat. Bersama HMI dan KAMMI, PMII terlibat percaturan politik yang panjang memperebutkan kursi pimpinan organisasi intra kampus.

        Suryadharma Ali dan Ali Masykur Musa, beserta Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid, menjadi alumni penting yang memainkan peran penting pada pembangunan bangsa Indonesia





2. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)



         Dari semua organ ekstra, KAMMI terbilang cukup unik. Ia selalu dikaitkan dengan organisasi trans-nasional islam, yaitu Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al-Banna. KAMMI dianggap gerakan mahasiswa islam yang paling keras bersama Gema Pembebasan.

         Diketuai oleh Kartika Nur Rakhman, KAMMI memiliki 400 komisariat dan merajalela selama belasan tahun menjadi pimpinan-pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa, Lembaga Dakwah Kampus, maupun Lembaga Legislatif Mahasiswa.

Berulangkali stigma radikal dilekatkan namun KAMMI tak pernah bergeming. Alumni pentingnya, antara lain Fahri Hamzah dan Andi Rahmat. Karena baru mencapai satu generasi sejak 1998 didirikan, organisasi ini belum mencetak alumnus yang kuat, namun KAMMI begitu mengakar di kampus.

3. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)

          Organisasi ini bisa dibilang pewaris ideologi Bung Karno, karena sejak awal semangat Marhaenisme menjadi nyawa pergerakan organisasi ini. Lahir pada 1954, organisasi ini langsung dalam beberapa tahun meluas ke seluruh Indonesia bersama meluasnya pemikiran sosialisme dan marhaenisme, terutama dengan pergulatan pemikiran Nasakom waktu itu.

          Tahun 2001 hingga 2006 organisasi ini pernah terpecah kedalam dua faksi namun berhasil disatukan kembali. Alumni-alumni organisasi ini begitu banyak menjadi pengacara, aktifis, wartawan, dan kepala daerah, apalagi mereka memang terbiasa mengadvokasi masyarakat marginal.

          Di dalam kampus, organisasi ini tidak kalah bersaing seperti dugaan beberapa kalangan. Mereka justru kini menjadi komandan-komandan pers kampus, dan dianggap paling mewakili semangat pemikiran kampus. Orang-orang GMNI dianggap paling kuat literasi dan diskusinya, serta selalu menjadi agitator andal. GMNI adalah musuh alami HMI dan KAMMI di dalam kampus, dan seringkali mengalami gesekan serius.

         Aksi-aksi GMNI selalu dirancang keras, taktis, dan begitu penuh perhitungan kajian. Ini menyebabkan GMNI masih dihitung sebagai kekuatan besar kemahasiswaan di Indonesia.

 4. Himpunan Mahasiswa Islam, atau HMI



        Organisasi yang lahir tak lama setelah kemerdekaan ini hidup berkat semangat keislaman mahasiswa yang kala itu mesti berbenturan dengan kekuatan komunis, nasionalis, dan sosialis. Sebagai salah satu organ tertua, HMI telah banyak menyaksikan atau bahkan menjadi pelaku sejarah. Orang-orang seperti Amien Rais, Anas Urbaningrum, dan Akbar Tanjung adalah alumnus penting organisasi ini.

         HMI saat ini diketuai oleh Mulyadi P Tamsir, dan memiliki ratusan ribu kader dalam berbagai jenjang di lebih dari 700 komisariat di Indonesia. Ada sebuah pameo di kalangan aktivis, berbunyi; “Dari tukang sapu sampai rektor di kampus, tidak ada yang bukan HMI” dan juga “HMI masih menjadi Godfather di Indonesia. Dari Koruptor sampai KPK-nya alumni HMI”. Pameo ini tercipta karena begitu legendarisnya HMI.

Organisasi ini pecah menjadi dua bagian pada saat diberlakukannya asas tunggal oleh Soeharto, menjadi MPO dan DIPO.

         Itulah empat besar gerakan mahasiswa ekstra kampus di Indonesia. Ada banyak organisasi lain seperti Gema Pembebasan, PEMKRI,  berbagai organisasi berbasis keilmuan, dan lain-lain tetapi pengaruhnya belum sebesar keempat organ di atas. (AA)


Sejarah pondok pesantren At-tanwir

SEJARAH PONDOK PESANTREN ATTANWIR


            Pondok Pesantren Attanwir yang terletak di Desa Talun Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terlahir dari sebuah Musholla yang terbuat dari kayu jati yang dibangun pada Tahun 1925M, oleh H. Idris dan dipersiapkan untuk anak angkatnya, H. Sholeh, yang masih belajar di Pondok Pesantren Maskumambang Gresik. Tahun 1933, H. Sholeh mulai merintis kegiatan mengajar anak-anak di Musholla yang telah dipersiapkan. Dimulai dari mengajar membaca Al-Qur’an, Tulis menulis huruf Arab, cara-cara beribadah dan sebagainya. Waktu mengajar sore hari mulai ba’dal Ashar hingga Isya’ pada setiap hari. Kegiatan ini dilakukan seorang diri dengan penuh ketelatenan, keuletan dan kesabaran serta keikhlasan.
       Setelah beberapa waktu berjalan, Alhamdulillah hasilnya mulai tampak, kalau yang semula belajar hanya anak-anak Desa Talun yang jumlahnya kurang dari Sepuluh anak, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, anak-anak dari Desa sekitarnya mulai berdatangan ikut belajar hingga jumlahnya mencapai 40 anak lebih. Tidak ketinggalan para orang tua mereka juga mulai belajar dengan kesadaran sendiri
           Makin lama jumlah pemeluk Islam semakin bertambah, akibatnya Musholla yang di tempati kegiatan belajar-mengajar dan berjama’ah tidak mampu menampung mereka yang jumlahnya setiap waktu terus bertambah. Dibelilah sebuah rumah dari kayu jati dengan ukuran lebih besar dan selanjutnya diwakafkan untuk Masjid, sedang Musholla yang ada digunakan tempat mengajar dan Asrama santri putra. Sementara kegiatan Belajar-mengajar masih berjalan sebagaimana biasa, yaitu dengan sistem weton dan sorogan dan hanya ditangani sendiri oleh KH Sholeh.
Sejalan dengan perjalanan waktu, jumlah santripun bertambah banyak, tidak hanya santri putra saja, santri putipun jumlahnya semakin banyak, dan diantara mereka ada yang datang dari luar Desa atau Daerah, maka terpaksa harus menyediakan beberapa kamar atau gotakan tempat mereka. Demikian pula tenaga pengajarpun ditambah.
        Dalam perkembangannya Pondok Pesantren Attanwir berupaya menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia Modern, tanpa meninggalkan ciri khas sebagai Lembaga Pendidikan Pesantren yang Islami Ala Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Sebagai Lembaga Pendidikan Tradisional, Pondok Pesantren Attanwir mempunyai fungsi ganda, yaitu Dakwah dan Pendidikan. Oleh karena itu peran dan Fungsinya menjadi sangat Strategis, dan peran tersebut secara bertahap selalu diupayakan pelaksanaannya sesuai dengan kemampuan serta perkembangan situasi setiap waktu.
Dengan semakin berkembang dan majunya dunia pendidikan serta meningkatnya tuntutan masyarakat, maka keberadaan Pondok Pesantren Attanwir juga dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhan tersebut, yaitu dengan membuka Madrasah Diniyyah Khusus anak putri, waktu belajar sore hari dengan masa belajar 3 tahun. Pada tahun pertama (tahun 1951) ada 40 anak, pada tahun berikutnya sudah mencapai 100 anak. Sedang santri putra untuk sementara masih tetap diajar malam hari seperti biasa.
        Berkat ketekunan dan keikhlasan KH. Sholeh, kesadaran ummat semakin meningkat, keimannya semakin mantap, dukungan terhadap pesantren juga semakin besar. Kemudian pada tahun 1952, seistem pendidikan ditingkatkan lagi, dari Diniyyah menjadi Ibtidaiyah selama 6 tahun untuk putra-putri dengan waktu belajar pagi hari. Seiring dengan bertambah banyaknya santri, maka pelaksanaan belajar mengajar tidak mungkin lagi hanya ditangani sendiri, seperti yang sudah berjalan selama ini, maka untuk kelancarannya di perlukan tambahan beberapa pembantu, baik untuk membantu mengajar maupun membantu mengurusi kebutuhan-kebutuhan lain yang diperlukan pesantren. Untuk mengatasi kebutuhan tersebut, didatangkan pengajar atau ustadz-ustadzah dari daerah lain, diantaranya Yogyakarta, Solo, Jombang dan dari daerah lainnya, karena pada waktu itu tenaga pengajar dari daerah sendiri masih sulit.
        `Dalam perjalanan selanjutnya kepercayaan ummat kepada pesantren terus bertambah meningkat, santri atau murid yang datang bertambah banyak baik dari dalam maupun luar desa, sehingga sarana untuk kegiatan belajar mengajar dan tempat beribadah perlu ditambah dan perluas, maka menjelang tahun 1957, dengan bantuan, bimbingan dan petunjuk Bapak HM. Maskun dan H. Idris mereka sepakat untuk membuat masjid yang permanen dengan ukuran 16 x 11m yang bertempat diatas tanah masjid lama, dan Alhamdulillah pada tahun 1958, bangunan masjid ini dapat terwujud, sampai sekarang bentukdan model bangunannya.Masih tetap seperti sediakala belum ada perubahan, hanya ada penambahan teras disebelah selatan untuk muslimat dan teras depan. Dan diberi nama masjid “Al-Muttaqin”.
        Pada tahun 1960, Pondok Pesantren Attanwir membangun tambahan gedung baru dengan ukuran luas 21 x 7 m2, dan peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan oleh Bapak Bupati Bojonegoro. H.R. Tamsi Tedjo Sasmito. Gedung baru ini terletak disebelah selatan masjid dan digunakan untuk madrasah Mu’alimin Al-Islamiyah selama 4 tahun, yang kemudian diubah menjadi Madrasah Tsanawiyah selama 3 tahun dan Madrasah Aliyah selama 3 tahun juga. Dengan pengertian bahwa masa belajar di madrasah 6 tahun Tsanawiiyah dan Aliyah, maka dianggap belum tamat apabila belum menamatkan kelas III Aliyah. Dan dengan tetap mengikuti ujian Negara, mereka yang sudah lulus, mendapat Ijazah Negri yang dapat digunakan sebagai salah satu bekal menghadapi masa depan yang semuanya serba Formal.
        Mulai tahun 1982, dengan selalu memohon pertolongan Allah SWT disertai upaya dan kerja keras, maka setiap tahun dapat merehab bangunan-bangunan lama dan sekaligus menata penempatan gedung-gedung tersebut. Disamping itu juga dapat membangun beberapa gedung baru, baik untuk Madrasah maupun untuk Asrama atau Pondok Putra-Putri termasuk Perkantoran dan sarana lainnya. Pembangunan gedung-gedung tersebut sifatnya untuk mengejar kebutuhan pokok yang dirasakan sangat mendesak, jadi belum merupakan bangunan dengan kualitas dan standar yang sempurna juga masih belum mencukupi kebutuhan yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah santri atau siswa yang datang setiap tahun. Dengan wafatnya KH. Sholeh Tahun 1992, kepengasuhan diamanatkan kepada KH. Sahal Sholeh sampai wafat beliau pada Tahun 2006. Kemudian kepengasuhan diserahkan kepada KH. Ali Humaidi dan dibantu oleh H. A. Fuad Sahal hingga sekarang.
        Bersamaan dengan itu, kesadaran ummat semakin meningkat, ada yang dengan ikhlas mewakafkan tanahnya, ada yang tanahnya ditukar dengan tanah ditempat lain dan ada pula yang tanahnya rela dibeli pondok, sehingga saat ini luas tanah lokasi pondok sudah ada ± 2 ha, semua berstatus wakaf dan sudah bersitifikat, sedang luas bangunannya sudah mencapai 4.430 m.
Selanjutnya pelaksanaan Pendidikannya sebagai lembaga Pesantren, sistem tradisional yang masih relevan dengan kondisi dan situasi sekarang tetap dipertahankan. Sedang sistem modern yang dipandang lebih baik juga diterapkan, jadi ada perpaduan antara sistem Tradisional dengan sistem Modern, demikkian juga tentang Kurikulum yang dipakai merupakan perpaduan antara Kurikulum Pemerintah (Depag) dengan Kurikulum Pesantren, dalam arti pelajaran bidang Agama, disamping kurikulum ala Pesantren Modern Gontor juga tidak ditinggalkan. Sudah barang tentu pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.
       Adapun unit pendidikan formal yang ada di Pondok Pesantren Attanwir saat ini adalah:


1)      Roudlotul Athfal (RA)

2)      Madarasah Ibtida’iyah (MI)

3)      Madarasah Tsanawiyah (MTs)

4)      Madarasah Aliyah, terdiri dari dua jurusan yaitu; Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

5)      Sekolah Menengah Kejuruan, terdiri dari dua jurusan yaitu; Teknik Komputer Jaringan (TKJ) dan Teknik Kendaraan Ringan (TKR)

6)      Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Attanwir, yang meliputi dua program yaitu; Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) dan Ekonomi Syari’ah (ES)

       Sedangkan unit Pendidikan Non Formal diantaranya PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), Majelis Ta’lim, KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) dan Jam’iyyatul Qurro’ Wal Huffadz.Dan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar (KBM), tersedia sarana prasarana seperti Asrama Santri, Ruang perpustakaan, Ruang Multimedia, Laboratorium Komputer, Laboratorium Bahasa, Laboratorium IPA, Laboratorium Ekonomi dan Laboratorium BKI.